Berguru Pada Cermin

“Sesungguhnya tidaklah beriman seseorang diantara kamu, sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.”

Tauladan kita semua yaitu Nabi Muhammad Saw telah mengajarkan kepada kita bagaimana kita memperlakukan saudara kita seiman. Apa yang kita perbuat, apa yang kita kerjakan untuk orang lain yang seiman dengan kita seharusnya mengacu pada apa yang kita perbuat dan kerjakan untuk diri kita sendiri.

“ Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lainnya”

Hampir bisa dipastikan setiap orang mengenal apa yang disebut cermin, lebih jauh dari itu hampir dipastikan disetiap rumah kita ada cermin, tidak hanya satu mungkin lebih. Di kamar tidur ada, di kamar mandi ada, di ruang tamu mungkin juga ada.
Tapi tidak semua dari kita mempelajari karakter dari cermin, sebuah benda yang setiap hari kita gunakan itu.

Dalam hal hubungan seorang mukmin dengan mukmin lainnya, rasanya patut kita mengambil pelajaran dari sebuah cermin.

  1. Cermin bersifat konstruktif, membangun atau memperbaiki.
    Pada saat kita berdiri dihadapan cermin, maka cermin akan memperlihatkan semua bagian tubuh kita yang dihadapkan ke cermin.
    Cermin akan memberitahu kepada kita bahwa wajah kita kusut, rambut kita tidak rapi, ada noda hitam diwajah kita, dan hal lain yang tidak sempurna. Dengan informasi itu kita melakukan perbaikan, muka kita bersihkan, rambut disisir rapi sehingga kondisi kita lebih baik daripada saat sebelum kita bercermin.
    Dalam bergaul sesama mukmin seharusnya juga mencontoh sifat cermin tersebut, kita harus berperan sebagai perubah bagi saudara mukmin kita ke arah yang lebih baik.
  2. Cermin memantulkan bayangan yang merefleksikan orang yang ada dihadapannya.
    Ketika seseorang bercermin dengan mimik wajah tersenyum, maka cermin memantulkan wajah yang juga tersenyum. Sebaliknya jika wajah kita dalam posisi menangis, juga akan dipantulkan bayangan wajah menangis oleh cermin. Adalah suatu hal yang tidak mungkin jika wajah seseorang yang sedang menangis, kemudian bayangan yang dipantulkan cermin adalah wajah tertawa.
    Inilah seharusnya sikap seorang mukmin dengan mukmin yang lainnya. Kita harus memahami betul kondisi dan perasaan saudara kita sesama mukmin. Ketika saudara kita sedang ditimpa kesusahan, maka kita juga harus empati (ikut merasakan) kesusahannya tersebut dan berusaha semaksimal yang kita mampu untuk meringankan bebannya. Sebaliknya jika saudara kita sedang mendapat limpahan nikmat, maka kita juga turut merasa senang dan bahagia.
  3. Cermin sangat jujur dalam menilai apa yang dihadapannya, tanpa dilebih-lebihkan ataupun dikurangi.
    Apapun yang ada dihadapannya dipantulkan bayangan yang persis sama. Jika diwajah kita ada noda hitam sebesar koin Rp.50,- dan kita bercermin maka cermin akan menampilkan noda diwajah kita itu sebesar koin Rp.50,- . Tidak mungkin lebih besar seperti koin Rp.100,- atau pun tidak mungkin juga lebih kecil.
    Begitupun bentuk wajah, hidung kita yang pesek, mata belok, pasti akan ditampilkan persis seperti itu oleh cermin, tidak akan mungkin berubah jadi mancung dan mata sipit.
    Begitulah seharusnya kita sebagai seorang mukmin dalam bersikap dan menilai saudara kita sesama mukmin. Yang baik kita katakan baik dan yang kurang baik kita sampaikan juga dengan cara yang bijak.
  4. Cermin adalah makhluk yang amanah
    Pernahkah kita membayangkan cermin akan mengatakan apa yang dilihatnya kepada orang lain yang bercermin sesudah itu?
    Ilustrasinya begini, seseorang dengan wajah kusut, belepotan noda bercermin, kemudian di beranjak dari tempat itu. Setelah itu datang orang kedua yang bercermin, lalu cermin berkata kepada orang tersebut “ hei kawan, sebelum ini ada orang yang datang kepadaku bercermin, wajahnya jelek sekali, kusut dan penuh noda hitam.” Mungkinkah itu terjadi? Tentu tidak, cermin akan bungkam seribu bahasa tentang semua orang yang datang bercermin, cukuplah dia yang tahu apa dan bagaimana orang yang datang padanya, tidak pernah ia ceritakan kembali pada siapapun.

Dari beberapa hal di atas semoga kita dapat mengambil ibrah, pelajaran untuk dapat kita aplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari dalam rangka membina hubungan antara sesame manusia wabilkhusus terhadap saudara kita sesame muslim dan mukmin. Amin.

(wallahu a’lam bissawab)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s